oleh

Pejuang Dakwah Yang Dirindukan Allah SWT. Opini Azzam Al Fatih

Pejuang Dakwah Yang Dirindukan Allah SWT. Oleh: M Azzam Al Fatih, Pemerhati umat dan aktivis dakwah.

Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik laki maupun perempuan. Tak ada alasan apapun baginya, kecuali sami’ ‘na wa atho’na dari Tuhannya. Kewajibannya sama seperti sholat, zakat, haji dan sejenisnya.

Tak ada rasa nikmat iman dan Islam dalam diri kita, kecuali adanya dakwah. Tak ada ketentraman pada diri kita, kecuali adanya dakwah, dan tak ada nikmat pahala yang kita dapat keculai adanya dakwah pula. Bahkan setiap insan merasakan hasil dari perjuangan dan dakwah yang menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rosululloh SAW telah mengawali dakwah dienul Islam dengan menakjubkan. Dari keimanan seorang diri hingga bisa mengajak para sahabat, saudara, hingga seluruh madinah, Makkah, dan beberapa jazirah Arab. Dari seorang budak hingga konglomerat bangsawan berbondong – bondong mengikuti seruan Nabi Muhammad SAW hingga Beliau mendirikan sebuah Negara demi mewujudkan kehidupan yang yang sesuai dari penciptanya.

Beliau tak pernah mengeluh, meski kesulitan, kesedihan, dan galau karena dakwahnya ditolak. Beliau senantiasa Istiqomah meski dibenci, caci, hina hingga ancaman pembunuhan. Beliau pun tak pernah menerima tawaran berupa jabatan, wanita dan harta dari Yahudi meski sebetulnya memerlukan,  semua Beliau tolak demi kesempurnaan dakwahnya.

Itulah dakwah, sesuatu yang wajib dilakukan setiap muslim agar setiap insan merasakan kenikmatan  iman dan Islam dari dunia hingga akhirat. Di dunia ia akan merasakan kehidupan yang baik, karena mendapatkan cahaya kebenaran berupa syariat dari Tuhannya. Yang manakala diterapkan secara kaffah akan menjadikan kehidupan yang rahmatan Lil Alamin.

Dakwah, sesuatu amalan yang pahalanya besar. Bahkan tergolong pahala jariyah yang mengalir seiring orang itu menjalankan agama. apalagi jika apa yang menjadi puncak dakwah itu terealisasi tentu pahalanya tidak bisa dihitung lagi. Berlipat, menumpuk dan menggunung. Subhanallah.

Baca Juga :  Hut Bakti PUPR ke 73 Tahun Diwarnai Dengan Tabur Bunga

Namun yang menjadi cambuk hati bagi seorang pejuang dakwah adalah ketika kita termasuk orang – orang yang rugi. Yaitu orang yang berdakwah dengan Serius, semangat, dan telah berkorban banyak baik waktu dan harta namun dihadapan Allah dia tidak mendapatkan pahala apapun, hilang tak berbekas. Nauzubillah min dzalik.

Pejuang dakwah yang berharap ketenaran, popularitas dan selalu berbangga diri maka dia telah rugi. Disebabkan pahala yang dia raih telah dia beli dengan kesenangan dan kebanggaan di dunia. Memang dia telah merasakan kebanggaan atas sanjungan dari orang dan koleganya. Sanjungan pun terasa manis menyegarkan semangat dakwahnya. Tapi ketahuilah, kebahagiaan yang sebenarnya telah hancur lebur menjadi bubur yang tak dapat diperolehnya di akhirat.

Pejuang dakwah yang berbangga diri atas capaiannya, tentu dia telah rugi. Perjuangan dakwah yang dilakukan berpuluhan tahun hanyalah sia – sia. Harapan pahala yang dinantikan pun hangus tak tersisa. Capaian yang gemilang dengan kesuksesan mengislamkan ribuan orang sekalipun, rugi. Bahkan Dirinya tergolong orang yang kekal di neraka. Sebab dia merasa diri aku dan aku yang paling berhasil, bukan dia tergolong orang yang sombong. Dan ketahuilah bahwa orang sombong tidak akan masuk surga. Seperti halnya iblis, yang sombong tidak mau sujud kepada nabi Adam as karena merasa diri lebih mulia dari Adam as ( manusia).

Pejuang dakwah yang suka disanjung pada akhirnya akan jatuh, kemudian hancurlah segala harapan. Ibarat batu dilempar ke atas setinggi – tingginya, pasti pada akhirnya jatuh ke bawah kemudian hancur berkeping – keping. Sanjungan akan melenakan hati, merusak niat, dan meluluhlantakkan harapan yang di inginkan. Ingatlah, bahwa sanjungan itu tipu muslihat iblis untuk mengelabuhi orang beriman. Sebab orang bertaqwa sulit di goda kecuali dijerumuskan kepada kerugian amalan – amalannya.

Baca Juga :  Nasi Anjing, Kebebasan Yang Dilindugi Oleh Sistem Kufur. Opini Azzam

Wahai pejuang dakwah, hal yang paling berpengaruh dalam urusan pahala adalah niat. Niat yang salah akan menghancurkan seluruh pahala serta meruntuhkan segala kenikmatan. Maka seorang pengemban dakwah wajib menjadikan niat  dan cara yang benar sebagai poros aktivitasnya. Niatkan segala aktivitas dakwah dan perjuangan semata – mata mengharap ridlo  Allah SWT. Iklas apa yang telah dikorbankan baik waktu, harta dan tenaga. Iklas pula tatkala rintangan dan ujian menghampirinya, Dan ketahuilah bahwa selama masih di alam dunia ujian pasti datang. Maka berbahagialah bagi para pejuang dakwah, sebab ujian yang dialaminya meningkatkan kualitas dan keikhlasan dalam dakwah. Tentunya jika tetap mempertahankan keikhlasan, derajat ketaqwaan semakin tinggi serta pahala yang berlipat.

Dengan menempatkan niat yang tepat menjadikan pribadi yang lebih tenang, dewasa, dan berjiwa pemimpin. Bukan seorang pejuang yang putus asaan dan lemah dalam berfikir. Dirinya lebih bisa menata dan mengkonsep sebuah strategi dakwah untuk menundukkan Medan dakwah.

Dan dengan keikhlasan yang dia tempatkan dalam setiap langkah dakwah, menjadikann diri bermental pemenang disetiap laga. Senantiasa bergelora dan semangat menjalankan amanah tanpa ada kendala, beban dan siap syahid seperti para mujahid yang berlaga di Medan jihad. Sehingga kemenangan perang badar pun diraih kaum muslimin yang begitu menggemparkan dan memukul telak kaum kafir.

Akhir kata, semoga kita menjadi pejuang dakwah yang bisa menempatkan niat yang tepat seperti Rosululloh dan para sahabat. Sehingga kita menjadi pejuang dakwah yang mendapatkan pahala dan kemuliaan hidup baik dunia dan akhirat. Bukan pejuang yang mendapatkan lelah dan kerugian yang berbuah penyesalan dunia dan akhirat. Aamiin ya Robb.

Wallahu’Alam Bhishowwab.

Loading...

Baca Juga