Istilah manajemen laba bukanlah sesuatu hal yang baru bagi para pelaku bisnis maupun para akademisi akuntansi. Sampai saat ini, manajemen laba masih menjadi suatu fenomena yang banyak menarik perhatian dan menjadi bahan perdebatan yang tidak ada habisnya. Belum ada definisi pasti mengenai manajemen laba. Tiap orang memiliki interpretasi yang berbeda-beda dalam memaknai manajemen laba. Meskipun menggunakan penilaian yang berbeda, namun pada dasarnya mereka menyepakati bahwa manajemen laba merupakan aktivitas manajerial dalam usaha mempengaruhi laporan keuangan (Hribar et. al., 2014).
Praktik manajemen laba disinyalir sebagai akibat dari fleksibilitas dalam standar akuntansi keuangan. Pada dasarnya, prinsip-prinsip akuntansi dibuat dan dipersiapkan dengan baik, tidak kaku, dan tidak membingungkan. Prinsip-prinsip akuntansi menyediakan fleksibitas yang memberikan peluang untuk munculnya akuntansi kreatif yang dapat bervariasi derajat kreatifitasnya, mulai dari menempatkan sesuatu yang terbaik pada tempatnya sampai dengan salah saji (Pijper, 2016). Seorang manajer mungkin sebatas akan menggunakan fleksibilitas tersebut untuk keperluan kecil, tetapi tidak jarang ada yang menyalahgunakan sehingga memberi efek yang sangat besar.
Kajian terhadap manajemen laba yang ditinjau dari perspektif etika pernah dilakukan (Giner & Pardo, 2015). Hasil penelitian tersebut menunjukkan persepsi manajer yang menganggap manajemen laba dalam batas tertentu sebagai tindakan wajar dan etis serta masih dalam batas prerogatif manajer dalam melakukan tanggung jawabnya dalam rangka mendapatkan return perusahaan. Praktik ini bisa diterima karena sampai pada batas tertentu tidak melanggar prinsip akuntansi berterima umum.
Ada fenomena menarik terkait praktik manajemen laba. Dari sekian banyak pendapat yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan tindakan kecurangan dan merugikan banyak pihak, tapi nyatanya banyak investor yang tidak peduli. Mereka justru cenderung menyukai adanya praktik manajemen laba, terlebih yang membuat laba perusahaan terlihat stabil. Mereka merasa diuntungkan dengan kondisi tersebut. Hal ini dikarenakan perusahaan dengan serial laba yang rata dianggap memiliki risiko yang rendah dan memberikan jaminan laba di masa depan yang lebih pasti. Namun yang perlu diketahui, ternyata investor yang cenderung abai dengan adanya praktik manajemen laba adalah investor yang hanya terlibat dalam hal jual beli saham atau surat-surat berharga, bukan investor yang berniat melakukan investasi (Chan et. al., 2010). Jika investor tersebut bertujuan melakukan investasi, tentu dia akan lebih cermat dalam melihat tingkat kesehatan finansial sebuah perusahaan.










