oleh

Keutamaan Dakwah Dalam Perubahan Di Tengah-tengah Masyarakat

Keutamaan Dakwah Dalam Perubahan Di Tengah-tengah Masyarakat

Ditulis oleh: Aprilina, SE.I, Aktivis Muslimah Peduli Umat.

Maraknya beredar video tentang persekusi ulama yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan mengatasnamakan kelompok tertentu, sangat menyedihkan. Sosok ulama yang seharusnya dihormati malah dicaci-maki. Prilaku yang jauh dari sikap sebagai seorang muslim. Zaman sudah berubah. Namun tidak dengan perilaku manusia. Meskipun tidak bisa digeneralisir, sikap sekelompok orang ini telah menyakiti seluruh kaum muslimin yang taat dan menerapkan ajaran Islam. Hanya karena ulah segelintir orang, Islam dianggap sebagai agama yang tidak mengajarkan perilaku yang baik. Padahal dalam Islam ada syariat yang disebut akhlak. Ini merupakan salah satu misi diutusnya nabi Muhammad SAW. Beliau SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim mengamalkan seluruh ajaran Islam dan mengingatkan saudaranya yang salah. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaklah merubah dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya. Sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Allah SWT berfirman: “Dan siapakah yang paling baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, dan berkata: ‘Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)’?”. (TQS Fushshilat [41]:33).

Maka dari itu, adanya orang-orang yang menyampaikan kebajikan serta saling mengingatkan merupakan sebuah keniscayaan, sebab menjalankan syari’at dan kebutuhan serta wujud dari keimanan kepada Allah SWT. Allah berfirman: “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. (TQS al-‘Ashr [103]: 1-3). Adapun Keutamaan aktivitas dakwah dalam rangka mewujudkan perubahan sebagai berikut:

1. Meneladani para nabi dan rasul. Allah berfirman: “Dia (Nuh) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam’.” (TQS Nuh[71]: 5). Dalam surat al-Muddatstsir, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan”. (TQS al-Muddatstsir [74]:1-2). Dalam surat Yusuf Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan yakin. Maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik”. (TQS Yusuf [12]:108).

2. Amal yang terbaik. Sayyid Quthb dalam fi zhilal, al-Quran : “Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di muka bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shaleh yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan.

Baca Juga :  Kebangkitan PKI Itu Keniscayaan. Opini Tony Rosyid

Setelah itu, tidak pantas kalimat seorang da’i disikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa kebaikan sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi…” ( Fi zhilal al-Quran 6/29 ) Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat mencukupi.” (HR.Abu Dawud). Dari Anas Ibnu Malik berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya (pahala) seperti orang yang melakukan (kebaikan itu)” (HR.Tirmidzi, hadis Hasan shahih).

3. Mendapat pahala yang besar. Nabi SAW bersabda: “Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh oleh orang lain, maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.” (HR.Muslim dari Jarir bin Abdillah). Nabi bersabda kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT memberikan hidayah kepada seseorang dengan dakwahmu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).

4. Penyelamat dari azab Allah SWT. Q.S al-A’raf [7]: 163: “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan ingatlah ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan kaum itu atau mengazab mereka dengan azab yang keras?’ Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Q.S al-A’raf [7]:164).

Juga firman Allah dalam ayat berikutnya: “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”(TQS al-A’raf [7]: 165). Nabi SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang tegak di atas hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti kaum yang menempati posisinya di atas kapal. Ada sebagian yang mendapatkan tempat di atas dan ada sebagian yang di bawah. Mereka yang ada di bawah, jika akan mengambil air harus melewati orang-orang yang berada di atas. Lalu mereka berkata: ‘jika kita melubangi bagian bawah milik kita tentu kita tidak mengganggu mereka’. Kalau mereka (orang-orang) yang ada di atas membiarkannya, maka mereka semua akan celaka. Tapi jika mereka mencegahnya, selamatlah semua.”(HR. Bukhari).

Baca Juga :  Strategi Direktorat Pengembangan Pasar Kerja dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

5. Jalan menuju umat terbaik (Khairu Ummah).
Allah SWT berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS Ali Imran [3]: 110).

6. Kewajiban setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat”. (HR. Bukhari).

7. Amal abadi. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Jika manusia mati terputuslah amalnya, kecuali 3 hal: shadah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akannya”.(HR. Muslim).

Dari beberapa keutamaan di atas, jelaslah bahwa melakukan dakwah untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik disyariatkan dalam Islam. Adapun perubahan yang hakiki hanya bisa diwujudkan dengan dakwah secara berjamaah dan didukung oleh negara. Allah SWT berfirman: “Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (Islam), menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (TQS Ali Imran [3]: 104).

Dalam surat An-Nisa, Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (TQS an-Nisa [4]: 9). Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (HR. Bukhari). Semoga ini bisa mengingatkan orang-orang yang lupa dan kembali kepada syari’at Islam. Sehingga tidak ada lagi persekusi dan caci maki terhadap sesama muslim, apalagi kepada para ulama. Wallaahu a’lam.

Loading...

Baca Juga