oleh

Orang Boleh Salah Tetapi Tidak Boleh Berbohong. Opini Malika Dwi Ana

Orang Boleh Salah Tetapi Tidak Boleh Berbohong. Oleh: Malika Dwi Ana,  Pengamat Sosial Politik.

Jika salah, sewajarnya meminta maaf dan lalu memperbaiki kesalahan, bukan malah menciptakan kebohongan-kebohongan lainnya demi menutupi kebohongan satunya.

Pepatah Jawa juga bilang; “Ajining Diri Gumantung Ana Ing Lathi”, kehormatan diri itu bergantung pada lisannya, mulutnya. Jika keseringan berbohong, maka jangan salahkan reaksi masyarakat yang menganggap peristiwa penusukan itu sebagai drama seperti sinetron terorisme yang biasa dipentaskan saat banyak hal besar ingin dikamuflasekan dan ditutupi. Masyarakat sudah kenyang alias resistance terhadap pembohongan dan pembodohan publik. Jadi mau berita itu benar atau tidak, sudah tidak jadi masalah lagi, semua dianggap dagelan menghibur.

Dan benar, seluruh media mendadak sontak cari muka dengan memblow-up berita penusukan Wiranto secara besar-besaran, sekaligus berbagai bahasan tentang Islam Radikal dan seluruh jaringannya, Demonologi yang selama ini berusaha dipropagandakan, dan dijejalkan ke masyarakat agar ditelan mentah-mentah tanpa dikunyah. Seolah segala permasalahn bangsa lenyap seketika oleh berita tuduhan radikalis yang melakukan penusukan.

Yang pro rezim ramai membroadcast berita penusukan, sambil bilang kelompok radikalis makin membabi buta, maka harus dibasmi. Dan ramai-ramai mempertanyakan empati kemanusiaan terhadap musibah penusukan pejabat menteri. Padahal empatinya sendiri sudah mati terhadap korban musibah lainnya yang lebih parah dampaknya. Apalagi jika musibah itu tak menguntungkan pemerintah seperti tragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan akibat Karhutla, meninggalnya 700 orang petugas KPPS akibat pemilu langsung, korban aksi demo kecurangan Pemilu pada 21-22 Mei, hingga demo mahasiswa soal disahkan RUU KPK serta tragedi kemanusiaan di Wamena, dan seterusnya, nyaris tak terdengar lagi, tak ada gebyarnya… wes ewes ewes bablas angine! Lalu tetiba mau nggacor soal kemanusiaan? Waras gitu?!

Empati kemanusiaan itu jika menyangkut kelompoknya, jika tidak ya masa bodoh, kalo perlu teriakkan itu hoax, aku ramikir. Paradoksial memang. Kemanusiaan itu seharusnya global, tidak tebang pilih dan pandang bulu, mau musibah apapun menimpa, dan korbannya siapa saja, apapun agamanya, dari kelompok apa saja ya berempatilah.

Empati kok milih pejabat lho! Pejabat mah jelas, terawat dengan fasilitas yang sangat baik, tapi kalo rakyat kecil? Mau pake BPJS diteriakin manja, kena gempa katanya membebani negara, menghirup asap hingga mampus sekalipun, apa peduli negara? Halahh embuh wés…. intinya negara (pemerintah) ini tidak hadir untuk rakyatnya saat rakyat membutuhkan, negara hanya hadir bagi elit penjahatnya… ehh pejabatnya. Nulis ngene ae kliru Jum.

Okeh….menutup dialektika soal penusukan, ada pepatah bilang; “jangan berbohong kepada pemikir, itu tidak akan pernah berakhir dengan baik. Karena orang-orang semacam itu telah melatih otak mereka untuk mencari lubang dalam sebuah cerita.” Jika ada omong kosong tidak masuk akal, mereka akan memikirkannya berulang kali sampai masuk di akalnya.

Misal, dikisah drama Naruto. Penyerang Naruto adalah sepasang suami istri yang ditengarai sebagai ISIS awalnya, lalu berubah dugaan menjadi JAD Bekasi yang sudah diendus sejak bulan September lalu. Tapi kemudian bisa jalan-jalan ngobrol dengan polisi dan menyambut kedatangan Naruto. Sepasang suami istri yang badannya kecil ini konon mempunyai ilmu kesaktian Ninja Konoha yang mampu melempar pisau dari jarak jauh dan terjadilah penusukan. Setelah digembar-gemborkan terpapar Islam radikal JAD, kini konon ceritanya pelaku sakit hati karena menjadi korban gusuran tol Jagorawi, lalu pernah terlibat narkoba dan menjadi agen judi Dingdong, dan menurut penuturan pak RT/RW pelaku tidak pernah sholat Jumat serta ikut pengajian.

Sampai disini, saya unjal ambegan dowo (ambil nafas panjang)… merasa tak kuasa membaca skenario. Duh Gusti, ini terlalu lucu untuk disedihkan. Dagelan tingkat embuh!

Memang sulit untuk menerima kebenaran, jika ternyata justru kebohongan-kebohonganlah yang sebenarnya ingin Anda dengarkan.

Jika Anda tahu kebenaran, maka Anda akan sulit dan muskil untuk dibohongi; sekaligus mengantongi dua pilihan sebagai bonus:
– Menyampaikan kebenaran atau
– Mendukung kebohongan yang Anda ketahui.

Loading...

Baca Juga