SUARAMERDEKA.ID – Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan Mulyanto secara tegas menolak penghapusan BBM Premium dan Pertalite. Pertamina seharusnya menyadari kondisi masyarakat di tengah pandemi yang masih membutuhkan BBM murah.
Mulyanto menjelaskan, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menyampaikan rencana kerja Pertamina terkait impor BBM, Selasa 9 Feberuari 2021. Nicke memperkirakan di tahun 2021 Pertamina akan melakukan impor BBM sebanyak 113 juta barel. Jumlah ini lebih besar 13,5 persen dibanding realisasi impor tahun 2020 yang sebesar 97,8 juta barel.
Menurutnya, Nicke menambahkan jenis BBM yang akan diimpor terdiri dari BBM RON 88 (premium) sebanyak 53,7 juta barel dan BBM RON 92 (pertamax) sebanyak 59,3 juta barel.
“Untuk menjaga defisit transaksi berjalan maka Pertamina akan mendorong kuota penjualan BBM non-penugasan (tanpa subsidi) lebih besar daripada BBM penugasan (bersubsidi),” jelas Nicke.
Menanggapi rencana tersebut Mulyanto menyatakan keberatan. Mulyanto minta Pertamina harus memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap BBM bersubsidi, apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang.
“Pertamina maunya memang demikian karena desakan dari kementerian LHK. Sesuai kesepakatan lingkungan RON rendah seperti Pertalite dan Premium diminta dihapus,” kata Mulyanto di Jakarta, Rabu (10/2/2021).
Anggota Komisi VII ini mengingatkan, Pertamina harus mempertimbangkan kemampuan beli masyarakat saat ini. Jika BBM Premium dan Pertalite dihapus, maka yang tersisa hanya Pertamax.
“Maka tak ada pilihan bagi masyarakat. Yang ada hanya BBM mahal. Kecuali harga Pertamax turun seharga premium. Ini masyarakat akan happy. Mesin mobilnya bagus, lingkungan terjaga dan harga murah,” imbuhnya.
Karenanya, Mulyanto dengan tegas menyatakan menolak rencana penghapusan BB M murah.
“Saya menolak penghapusan Premium saat ini di tengah musibah covid dan daya beli ekonomi yang lemah. Karena hanya menyisakan BBM yang berharga mahal. Jangan membebani masyarakat dengan soal ini,” pungkas Mulyanto. (OSY)










