oleh

Paradoksial Ketahanan Pangan Nasional. Opini Malika Dwi Ana

Paradoksial Ketahanan Pangan Nasional. Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndéso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial politik.

Oke, soal lahan gambut yang dipercayakan untuk diolah Menhan (Menteri Pertahanan), saya bukannya underestimate terhadap kapasitas Menhan, tetapi perlu diingat bahwa selalu ada issue di balik issue. Yang bergulir, bukanlah yang terjadi sebenarnya.

Dalam dunia politik praktis, apa yang terlihat di permukaan bukanlah peristiwa sebenarnya. Seperti kata Pepe Escobar: “Politik praktis itu bukan yang tersurat melainkan apa yang tersirat”. Apa yang terjadi di panggung pertunjukan, belum tentu yang sesungguhnya terjadi. Pertunjukan sesungguhnya justru terjadi di balik layar. Artinya, selalu ada hidden agenda di balik open agenda.  Ada sesuatu di dalam sesuatu. Dan tidak ada yang berdiri sendiri dalam setiap peristiwa politik. Ada bau kentut, tentunya ada kentut, dan sudah tentu ada yang kentut.

Sama hal dengan kasak-kusuk tentang Menhan yang diamanati untuk mengelola lahan gambut di Kalimantan. Dan beredarnya foto-foto Menhan bersama presiden. Indikasi apa yang bisa ditangkap?

Bahwa itu sebagai indikasi Menhan dikasih kepercayaan untuk memelihara ketahanan pangan nasional, pendapat ini saya iyakan saja, mau dibantah pun para diehardernya yang terlanjur ge-er bisa ngamuk-ngamuk. Tetapi jika melihat posisi ini sebagaimana pandangan Pepe Escobar: what’s behind, or beyond? Secara implisit ada pengingat untuk selalu eling dan waspada, dan itu tak ada salahnya kan.

Mengawali peristiwa kunjungan bersama itu, ada berita soal putusan MA (Mahkamah Agung) yang mengabulkan gugatan Rachmawati Soekarnoputri terhadap hasil pilpres 2019. Gugatan ini didaftarkan pada 14 Mei 2019, sementara putusan KPU (Komisi Pemilihan Umum) tentang pemenang pilpres (pemilihan presiden) adalah Joko Widodo-Ma’ruf Amin ditetapkan pada 21 Mei 2019. Sementara isi putusan baru diunggah ke laman MA pada 3 Juli 2020 atau baru beberapa minggu yang lalu.

Seperti berada di titik nadir. Berita soal dikabulkannya gugatan Rachmawati Soekarnoputri ini tentu saja dalam amatan saya membuat yang sudah kadung nyaman dengan empuknya kekuasaan dan liyer-liyermerem melek dalam hembusan semilir AC dingin menjadi ketar-ketir juga. Bagaimana jika berita ini lalu menjadi trigger para ulama dan massanya yang dulu mendukung PS (Prabowo Subianto) protes hingga memicu gerakan besar untuk menggoyang pemerintahan yang ^unlegitimate?_

Maka seperti kebiasaan pengalihan issue, dibuatlah foto-foto pak Menhan pelesiran bareng presiden ke Kalimantan, dan disebarlah berita soal pemberian amanah menjaga ketahanan pangan nasional.

Hal yang menurut saya paradoksial; bukankah Menhan seharusnya ngurusin masalah pertahanan keamanan, kenapa justru mengurusi ketahanan pangan. Terlebih soal ide bikin lumbung padi di lahan gambut, sementara, daerah yang subur karena tanah dari gunung berapi dan awalnya adalah persawahan justru dikonversi menjadi lahan pabrik. Contoh paling nyata ya pegunungan Kendeng, dimana banyak sawah digusur untuk industri pabrik semen. Dan yang terbaru, petani Tasikmalaya yang tergusur paksa akibat industrialisasi yang berhubungan dengan geothermal. Juga gunung Lawu isunya 3000 HA sudah dikapling untuk geothermal, dan lain-lain. Kenapa pulau Jawa diberikan Tuhan YME rangkaian gunung berapi? Karena memang diperuntukkan untuk pertanian, tanahnya subur dan bayak kandungan hara bekas abu vulkanik, sementara Kalimantan itu banyak lahan gambut karena buat sektor energi, salah satunya batu bara.

Kenapa logikanya tidak begini saja; membuat Kalimantan menjadi lumbung energi dan industri, which is sekarang sudah banyak produk batubara yang tidak menghasilkan polusi berlebih. Jadikan Kalimantan sebagai daerah pengembangan industri atau pengolahan energi sekaligus konservasi buat wisata karena kaya akan hutan mangrove. Ahh tapi yaa sudah lah ya. Lagi-lagi saya tidak underestimate, bukan tidak mungkin lahan gambut proyek mangkrak sang mertua Menhan dan soal Lumbung Pangan Nasional terwujud, sesuai juga dengan pikiran para pakar pertanian (konon), tapi mbokya berusaha gak lugu-lugu banget melihat pertunjukan ini. Melihat itu lahan mudah terbakar karena di dalamnya banyak kandungan batubaranya. Sama seperti api dalam sekam yang berusaha ditutupi dengan tampilan pencitraan yang seolah adem.

Loading...

Baca Juga