oleh

Indonesia Keep Social Distancing, “Krisis Abu-Abu”. Opini Naili Amalia

Indonesia Keep Social Distancing, “Krisis Abu-Abu”. Oleh: Naili Amalia SE MMPemerhati Ekonomi.

Kaya, Alam seisi membentang luas timur hingga barat. Deretan ribuan kepulauan untuh membentuk sebuah bangsa nusantara Indonesia. Terlandasi atas dasar cita-cita bersama, melindungi segenap bangsa, seluruh tumpah darah serta kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa.

Suasa tahun 1998 “memanas” atas dasar hilangnya kepercayaan terhadap pemerintahan. Krisis terjadi, hilang kepercayaan “terbitlah pembrontakan” berbagai unsur masyarakat utamanya mahasiswa. Marak KKN dilingkungan pemerintah membuat masyarakat bersatu geram. Kerusuhan tergambar jelas pembrontakan membabi buta sehingga penjarahan dimana-mana. Tidak sedikit menjadi korban sehingga tak ada kepastian tanggung jawab yang ada hanyalah menjaga kepemilikan sendiri tanpa adanya pembelaan.

Kepiluan atau titik balik bangsa? Negara mengalami problematika begitu berat dengan sebutan “krisis” moneter. Masalah “ekonomi makro” jelas ternodai beberapa faktor, ditambah ekonomi Asia tidak kondusif. Sri Mulyani menyebutkan faktor utama krisis 1998 disebabkan oleh neraca pembayaran. Berawal Macan Asia melakukan pinjaman mata uang asing, untuk spekulatif real estate dan koreksi mata uang terhadap dollar. Diluar perkiraan overvaluation terjadi, investasi dengan modal terlalu tinggi serta bebasnya korupsi pada zamannya faktor utama aliran tidak tepat sasaran.

Lagi-lagi, tepat 10 tahun kemudian terjadi kembali. Jelas beda cerita dan penyebab. Faktor utama terjadi krisis 2008 karena “produk derivatif”. Apa yang terjadi? Adanya suatu perjanjian untuk melakukan pertukaran uang, aset atau suatu nilai pada masa yang datang dengan mengacu aset menjadi acuan pokok. Tergambarkan neraca dalam keadaan sehat tetapi atas kebijakan derivatif banyak risiko didalamnya. “Imunitas” suatu negara menghadapi risiko atas perjajian membuat ekonomi nasional tergoncangkan.

Krisis menerjang ketidak stabilan perekonomian. Secara ekonomi mulai lapisan atas hingga lapisan bawah merasakan. Datangnya ketika benar-benar dalam kondisi sensitifitas ekonomi baik secara permasalahan nasional maupun masalah internasioanal. Kondisi ini sering disebut “Paceklik”.

2020 Krisiskah?

Menelaah lebih jauh pada kondisi 1998, dimana nilai rupiah terhadap dollar melemah hingga menyentuh angka 16.800 pada 17 Juni 1998. Setelah berakhirnya masa itu dihari berikutnya rupiah terhadap dollar kembali menguat ke angka 14.000. Siklus ekonomi secara nasional “sangat sensitif” terhadap peristiwa yang terjadi.

Maret 2020, Corona menerjang menjadi koreksi “garis merah” terhadap semua keadaan Indonesia. Seperti biasa, ekonomi sensi juga menghadapi reaksi covid-19. Terlihat IHSG langsung turun membentuk merah setelah pengumuman corona. Nilai rupiah terhadap dollar memberikan reaksi melemah. Rupiah terhadap dollar menyentuh angka 16.800 pada tanggal 23 Maret 2020. Fantastik bukan? Angka tersebut sama ketika krisis 1998, tapi jelas dengan kondisi “berbeda”.

Kelesuan rupiah terhadap dollar pada tahun 1998 dan tahun 2020 sekarang ini sama yaitu menyentuh angka 16.800. Kondisi berbeda sebagai latar belakang penyebabnya. 1998 terjadi karena perlawanan masyarakat terhadap pemerintahan saat itu untuk turun dari jabatannya. Sensitifitas tersebut langsung bereaksi pada kisaran hari tersebut. Itupun tidak lama terjadi rupiah menguat kembali, menyentuh tingkat kestabilan. Saat ini rupiah melemah diakibatkan kasus dunia yaitu corona. Permasalahannya adalah penanganan kasus corona bukanya berhenti justru menjadi- jadi. Sehingga melakukan reaksi rupiah melemah cukup panjang.

Baca Juga :  Danrem 071 Cek Lahan Demplot, Lihat Aplikasi Pupuk Wijayakusuma

Ada benarnya juga jika grafik nilai rupiah fluktuatif, jika stabil tidak akan menarik bagi pelaku forex. Penonjolan fluktuasi dijadikan momentum untuk melakukan kebijakan yang lebih bagi setiap investor forex. Tetapi diharapkan tidak lama menghadapi ekonomi semacam ini, karena menyulitkan semua langkah.

Ancaman tidak hanya pada valas semata. Ancaman nyata terjadi pada pasar bursa efek. Saham jatuh sejatuh-jatuhnya. Hampir semua sektor merasakan, harga saham seolah “sepakat terjun”. Ancaman bagi investor, kekhawatiran mengakibatkan penarikan uang dengan serempak melakukan penjualan secara besar-besaran.

Banyak investor tidak mencium keadaan ini, sehingga belum sempat melakukan pernjualan. Akibatnya adalah portofolio investor “terbakar”. Lama sekali rasanya tidak ada kepulihan dipasar bursa efek. Jika dihitung-hitung hampir sebulan peruh IHSG “terblok darah”. Bagaimana tidak keadaan kasus corona menjadi-jadi sehingga menghambat semua lapisan perekonomian.

Kamis 26 Maret 2020, kabar baik untuk investor dan trader saham. Mengapa tidak IHSG cerah ceria menampilkan warna “hijau berseri”. Apakah ini rebound bagi hampir semua saham bluechip?. Apakah pasar saham sudah kebal dengan masalah corona?. Semua tidak akan ada yang tau pasti, kapan investor akan menarik dana dari investasi ataupun sebaliknya kapan akan menyetor dana untuk investasi. Sesungguhnya keputusan tersebut mutlak keputusan masing-masing investor. Saham tidak ada ilmu pasti menggunakan metode apa untuk menjual dan membeli. Adanya analisis yang didasar pada “teori serta keyakinan individu”. Ditambah skill peka membaca ekonomi dimasa akan datang.

Nasib Masyarakat?

Diketahui jelas penyebab semua ini imbas dari “pandemi corona”. Jika dilihat dari beberapa negara membuat kebijakan untuk lockdown. Sayangnya strategi ini tidak diambil oleh pemerintah. Sebenarnya semakin hari makin mengkhawatirkan kondisi Indonesia. Jumlah penderita covid-19 makin bertambah hingga mencapai 893 orang positif, 78 orang meninggal dan hanya 35 orang dinyatakan sembuh. “Social Distancing” dipilih menjadi strategi pemerintah Indonesia untuk meredam masalah corona.

Peraturan hanyalah peraturan. Kesadaran masyarakat masih sangat minim bahkan cenderung “flat tanpa respon” mematuhi. Lambat laun bertambah kesadaran seiring bertambahnya korban serta kengerian informasi dalam berita. Semua media meliput dengan campuran kata-kata menarik serta menyeramkan sehingga masyarakat merasa ketakutan akan “pandemi corona” ini. Seoalah-olah semua penyakit akan condong ke corona.

2 minggu tepat setelah Indonesia dinyatakan 2 orang positif covid-19 di Indonesia, dampak semakin terasa. Peraturan social distancing yang adanya justru berubahlah menjadi phisical distancing. Semua keadaan menjadi sepi, hening, sunyi, serba membatasi aktivitas serta khawatir. Itu semua hanyalah perasaan dari diri usaha untuk antisipasi. Terpenting lagi adalah dompetpun “sepi dari penghuni”.

Segala lapisan golongan ekonomi serta segala macam profesi mengeluh kondisi ekonomi. Sangat terasa bagi para pekerja wiraswasta. Beda juga dibandingkan dengan para pekerja karyawan maupun pegawai yang setiap bulan pasti dapet gaji. Golongan aman adalah para ASN, walaupun mengeluh juga kerana efek inflasi drastis barang kebutuhan. Pendapatan pasti ada tapi kebutuhan meningkat ujungnya kurang juga.

Baca Juga :  Garuda Asia Lolos ke Putaran Final Piala Asia U-16 di Bahrain

Jika dipikir enak lho jadi wiraswata ataupun pengusaha sekalipun. Pastinya akan terbayang banyak pendapatan. Nyatanya tidak selalu, inilah bagian dari risiko. Apapun usahanya pasti kondisi sekarang ”menjerit merintih”.

Ambil contoh pengusaha caffe, hello pandemi corona ingat social distancing, yang ada tak akan ada pengunjung. Tergambar jelas 2 minggu penurunan pelanggan terjadi. Pengusaha bisa berbuat apa? Caffe buka harus mengeluarkan biaya operasional, karyawan harus tentu digaji, bahan makanan semua meroket, pelangganpun tak ada yang masuk. Jelas opsi yang diambil “menutup caffe”. Mana pengusaha tersebut memperoleh pendapatan? Jelas tidak, yang ada mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga.

Miris mendengarnya. Social distancing ataupun phisical distancing membuat masyarakat bingung. Bagaimana tidak? Hakekat manusia hidup bersosial, apapun kebutuhan manusia pasti membutuhkan orang. Situasi social distancing semua masih jalan, pasar tetap beroperasi, toko-toko masih beroperasi, transportasi umumpun masih jalan. Aktivitas jelas masih jalan walaupun terbatas. Inilah sebab membuat perdagangan melemah. Biaya operasional meningkat pendapatan menurun. “Semu-semu” bukan?

Kabar gembira bagi masyarakat. Pemerintah meringankan beban hutang dan pembiayaan dengan memberi kelonggaran cicilan selama 1 tahun. Intruksi pemerintah jelas membuat senang masyarakat tapi, realisasinya sangat sulit untuk bank dan lembaga pembiayaan menerapkan hal tersebut. Bahkan beberapa lembaga pembiayaan menghimbau masyarakat atas kondisi sekarang “agar tetap melakukan kewajiban angsuran sesuai tanggal jatuh tempo supaya terhindar dari catatan BI Checking”. Instruksi pemerintah terasa percuma bukan?.

Beda cerita kalau penetapan lockdown, semua akan terhenti total. Instruksi jelas memang tak ada penjual dan tak adapun pembeli. Yang ada semua duduk diam merenung mensyukuri keadaan sembari berdoa dan selalu berusaha menjaga stamina kesehatan. Masalah ekonomi? Seharusnya pikir nanti ketika corona redam. Nantinya masyarakat akan serempak berbondong-bondong membangun ekonomi bangsa dari bawah. Jika semua keadaan telah membaik. Pasti bisa kok! Toh kebijakan ini dilakukan juga diberbagai negara demi kemaslahatan umat.

Pandemi corona menghantui dunia. Pertumbuhan ekonomi sensitif sekali dengan masalah nasional maupun global. Jelas semua negara terpuruk sebab corona, termasuk Indonesia. Rupiah sempat melemah beberapa hari, hampir satu bulan IHSG selalu merah, tidak bertemunya dengan tepat antara supply and demand. Banyak permintaan seperti masker dan handsanitizer tetapi barang langka. Tahu tempe saja pasokan mulai terbatas. Banyak barang kebutuhan sekunder tapi tak adanya pendapatan untuk beli ke arah sana, yang ada hanyalah “hemat”. Apakah ini krisis? Dikatakan krisis bisa jadi emang keaadannya seperti ini. Dikatakan tidak krisis? Bisa juga, karena perekonomian masih jalan rapi walau “bergerak pincang”.

Ketetapan sudah disepakati. Masyarakat harus mematuhi. Lawan sekuat tenaga corona. Keep social distancing and phisical distancing. Rajin cuci tangan dan selalu jaga kebersihan. Banyak bersyukur dan berdo’a. “Kalau bukan dari kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?” Hentikan corona dengan #dirumahaja.

Loading...

Baca Juga