oleh

The New Normal, Berkawan dengan Corona? Opini Chusnatul Jannah

The New Normal, Berkawan dengan Corona? Oleh Chusnatul Jannah, Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban.

Wacana pelonggaran PSBB makin kencang. Meski Presiden Jokowi menegaskan belum ada pelonggaran terhadap PSBB. Apa yang disebut Presiden beberapa waktu lalu terkait ‘ hidup damai dengan corona’ adalah mukadimah. Ya, pendahuluan sebelum wacana relaksasi PSBB ini digodok pemerintah.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, mengatakan memang ada upaya mengarah pada kebijakan relaksasi PSBB. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan atau memulihkan produktivitas ekonomi. Hanya saja, belum ada keputusan kapan rencana ini akan diberlakukan.

Masyarakat diminta siap menghadapi new normal. Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, istilah new normal lebih menitikberatkan perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Seperti penerapan pola hidup sehat dan bersih, selalu memakai masker saat keluar rumah, mencuci tangan, dan sebagainya.

New normal juga akan mengubah paradigma pelayanan kesehatan. Yaitu, layanan kesehatan akan mengedepankan cara online. New normal dinilai langkah awal menuju herd immunity. Tanda-tanda mirip penerapan herd immunity itu mulai nampak. Semisal, ada wacana sekolah dibuka kembali pada Juni 2020; toko, mal, transportasi dibuka walau dengan protokol kesehatan; kantor, aktivitas massal mulai diperbolehkan aktif kembali.

Hal ini bisa kita lihat dari kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Melarang mudik, tapi moda transportasi diaktifkan kembali. Saat mal dibuka, bertebaran foto-foto mal penuh dengan kerumunan orang yang mengabaikan protokol covid-19.

Kebijakan PSBB sendiri sebenarnya sudah bermasalah sejak kemunculannya. Aturannya ambigu, pelaksanaannya membuat bingung. Beraneka tafsiran tentang PSBB berlaku. Karena PSBB sendiri lahir dari percampuran antara karantina wilayah dan lockdown. Jadinya, ketika diterapkan, aturannya juga campur-campur. Tidak jelas dan gamang. Tak ayal, pelaksanaan PSBB pun ambyar. Banyak pelanggaran. Masyarakat tak patuh aturan.

Baca Juga :  SKK Migas Pamalu Sosialisasi dan Beri Bantuan Sosial di Distrik Penghasil Migas

Karena purwarupa PSBB yang tidak jelas modelnya, banyak masyarakat yang memplesetkannya dengan beragam singkatan. Ada yang menyebut ‘Penguasa Suka Bikin Bingung’, ‘Prank Suka-suka Berskala Besar, ‘Peraturan Sering Biikin Bingung’, ‘Perkumpulan Sosial Berskala Besar’, dan lainnya.

Ada beberapa catatan tentang istilah ‘The New Normal’ yang mulai diperkenalkan kepada publik:

Pertama, pemerintah tidak belajar dari kesalahan. PSBB, diakui atau tidak adalah kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah. Kebijakan PSBB itu purwarupanya setengah jadi. Penerapannya setengah hati. Dulu diminta pakai UU Karantina Wilayah tidak mau, apalagi lockdown. Berdampak pada ekonomi katanya. Sekarang bagaimana? Kecolongan 2 juta pemudik di awal wabah, banyak pelanggaran, bansos berantakan. Buyar semua kan.

Lantas, dari PSBB ini mengapa tidak ambil pelajaran? Meski the new normal baru wacana, buru-buru melempar wacana itu justru malah membuat rakyat semakin bingung. Pemerintah yang membuat aturan PSBB, sekarang berwacana mau melonggarkan aturan yang dibuat sendiri? Kelihatan inkonsistensinya. Tidak tegas dan displin dengan kebijakannya sendiri. Selain itu, hal ini juga bisa memicu gelombang kedua corona.

PSBB nampak kegagalannya. Janganlah membuat kesalahan kedua dengan kebijakan salah arah Jangan sampai membuat kebijakan coba-coba dan suka-suka. Rakyat bukan bahan uji coba. Apalagi kalau sampai ada wacana mengarah ke kebijakan herd immunity. Berbahaya. WHO sendiri menentangnya meski beberapa negara menerapkannya. Terlalu beresiko. Sama seperti lontaran ‘berdamai dengan corona’. Ada upaya kepasrahan melepas tanggungjawab penguasa sebagai pengurus rakyat.

Kedua, the new normal disebut perubahan budaya, benarkah? Perubahan budaya dari pola tidak sehat menuju hidup sehat. Pertanyaannya, bagaimana caranya rakyat bisa hidup sehat? Sementara mereka harus menanggung derita sendiri mencari nafkah. Bansos yang digadang-gadang untuk menutupi kesulitan ekonomi, pada akhirnya seperti khayali. Tidak nyata dan pemanis belaka. Tidak sesuai yang dijanjikan.

Baca Juga :  Alasan Jokowi Memilih Terawan, Tito Karnavian dan Yasonna Jadi Menteri

Jangankan berpikir pola hidup sehat, mikir ada makanan saja itu sudah alhamdulillah. Inilah yang harus dijelaskan. Apa dan bagaimana berpola hidup sehat bagi rakyat kecil. Karena masyarakat kita mayoritas berada di level bawah.

Ketiga, the new normal demi produktivitas ekonomi. Tak dipungkiri, pandemik corona telah menginfeksi perekonomian. Dunia porak poranda akibat covid-19. Negara-negara yang menunjukkan kurva penurunan kasus corona mulai menata diri. Corona memang sangat berdampak pada keberlangsungan hidup rakyat. Namun, membiarkan rakyat berkawan dengan corona juga tidak tepat. Apalagi dengan keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan. Bakalan kewalahan jika penularan virusnya makin menggila.

Hal itu terlalu beresiko. Pemerintah dianggap tidak menunjukkan empati. Tagar #TerserahIndonesia menjadi bukti kekecewaan tenaga kesehatan terhadap kebijakan plin-plan. Tanpa wacana ‘the new normal’ saja masyarakat begitu abai terhadap virus ini. Bagaimana jadinya bila wacana ini diteruskan? Tak terbayang berapa banyak korban yang tertular.

Tak heran bila kebijakan relaksasi dinilai lebih menguntungkan pengusaha. Dengan relaksasi perekonomian diharapkan bisa berjalan normal. Namun, dengan relaksasi, potensi penularan juga bisa tinggi. Mengingat angka penularan masih terus mengalami tren peningkatan.

Oleh karenanya, wacana itu tak semestinya gegabah dilontarkan. Prioritaskan dulu keselamatan dan kebutuhan hidup rakyat. Bukan berpikir pemulihan ekonomi. Apa guna ekonomi pulih bila sebagian rakyat justru rentan terpapar corona? Ini sama saja mengorbankan rakyat demi ekonomi.

Memang susah mengingatkan penguasa bermental kapitalis. Kebijakan yag dihasilkan selalu berpikir untung rugi untuk ekonomi. Semoga corona segera berlalu bersama kapitalisme runtuh. Menanti peradaban baru untuk menyelamatkan manusia dari kerakusan sistem kapitalis. Peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Loading...

Baca Juga