oleh

Para Penunggang Kuda, Sebuah Opini Sri Bintang Pamungkas 

Indonesia 1440 (16), Para Penunggang Kuda. Oleh: Sri Bintang Pamungkas, Aktivis

Syahdan, dalam upaya menundukkan Nusantara, pada abad X, armada dagang Cina yang bersenjata tidak mampu merapat ke Pesisir Utara Jawa. Karena selalu ditolak dan diserbu oleh balatentara Kerajaan Modang dan Kahuripan. Pada abad XI sampai XII mereka lagi-lagi dihajar oleh balatentara Kerajaan Kediri. Dan pada abad XIII dihancurkan lagi oleh Kerajaan Singosari. Pada saat itu seluruh Asia Tenggara dan lautan di sebelah Selatan Asia sudah di bawah kekuasaaan Kerajaan Singosari.

Ketika Daratan Cina dijajah oleh orang-orang Mongol pada awal abad XIII, Kubilai Khan (1260-1294), cucu Jenghis Khan (1206-1227), mengirim Utusannya, Meng Chi, ke Nusantara agar Singosari tunduk dan mengirim upeti tanda takluk kepada Kekaisaran Cina. Raja Wisnu Wardhana bergelar Kertanegara pun murka. Maka, kuping Meng Chi pun dipotong, dan Utusan itu pun dikirim kembali pulang ke Cina…

Karena aksi-aksi teror orang-orang Cina dari Utara itu sudah terjadi berulang kali selama ratusan tahun, maka raja Kertanegara mendirikan Candi Kidal di Timur Kota Malang. Sebagai peringatan, agar keturunannya di Nusantara kelak selalu berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang Cina pendatang. Candi itu berisi relief bergambar Garuda Nusantara sedang bertempur dengan Naga Cina. Bangunan Candi dengan relief seperti itu ada pula di beberapa tempat, antata lain, di Candi Penampihan, Tulung Agung.

Alkisah, Kubilai Khan yang masih bersemangat menaklukkan Nusantara, pun mengirim tentara Tartar, yaitu gabungan Cina dan Mongol. Mereka terdiri dari 25 ribu tentara Cina dan 5 ribu tentara berkuda Mongol pada 1292. Armada semacam ghost fleet yang menakutkan dari daratan Asia Timur itu didukung oleh 1000 kapal, dengan logistik berupa 40 ribu batang emas, perak dan perhiasan lain. Mereka mendarat di Tuban dan Gresik, di muara Sungai Berantas yang kebetulan arus airnya sedang bergolak dan menggelegak.

Tentara Cina mendarat terlebih dahulu dan mulai menyerang. Mereka tidak melihat ada musuh yang harus dilawan, sehingga mereka masuk lebih dalam ke Selatan sampai ke hutan-hutan di sekitar Daerah Aliran Sungai Berantas.

Baca Juga :  Mafia Peradilan di Jakarta Timur (2): Ada Dor-Doran di Ruang Sidang.

Melihat tidak ada perlawanan dari tentara Jawa, pasukan Mongol berkuda pun merangsak masuk, dan masuk lebih dalam ke hutan-hutan yang dipenuhi oleh pohon-pohon Mojo berbuah pahit. Kuda-kuda Mongol itu mulai bingung melihat medan yang tidak pernah dilihat sebelumnya di Mongolia… Yaitu medan perang pasir yang terhampar seluas-luas mata memandang seperti di Gurun Pasir Gobi, atau padang rumput Mogul di musim kering tempat orang Mongol berburu Yak, keluarga Bison berbulu panjang.

Kuda-kuda itu bingung tidak bisa berjalan maju karena terhalang pepohonan hutan, apalagi mau berlari kencang. Tentara berkuda itu pun tidak bisa berjalan ke kanan ataupun ke kiri dan mundur. Mulailah kuda-kuda itu panik, mereka meringkik-ringkik dan menendang-nendangkan kaki depannya ke udara ke kiri dan ke kanan seakan-akan mau menjatuhkan para penunggangnya. Para penunggangnya pun sibuk dan tidak mampu mengendalikan kudanya.

Dalam keadaan hingar-bingar dan kacaunya kuda-kuda itu, keluarlah pasukan Raden Wijaya dari persembunyiannya di antara pepohonan. Pasukan Jawa ini menyerbu dengan tombak, bambu runcing, klewang, panah dan lain-lain dan dengan mudah membantai pasukan tentara Mongol.

Para tentara Mongol yang masih sibuk dengan kuda-kudanya pun tak sempat berbuat apa-apa, apalagi mencabut panah-panah andalannya dari punggungnya pun tak sempat. Pertempuran berlangsung dalam jarak dekat… Pedang-pedang dan Golok-golok mereka pun tidak banyak berguna, dalam keadaan kuda-kudanya yang ketakutan. Seribu tentara berkuda Mongol hancur berantakan, mereka terkepung dan tidak bisa berlari jauh melainkan tewas dan luka dibantai di tempat, diantara hutan pohon-pohon Mojo.

Tanpa dukungan tentara berkuda yang bengis dan tidak pernah kalah dalam medan perang itu, pasukan Cina pun kocar-kacir tercerai-berai. Mereka pun habis dibantai tentara Jawa di tepi Sungai Berantas. Air sungai pun memerah semerah darah puluhan ribu mereka yang tewas.

Mereka dihancurkan tentara gerilyawan Raden Wijaya. “Tentara Emas” Mongol yang gagah berani dengan semboyannya “Tuhan yang Esa di Langit dan seorang Khan di Dunia yang menakluklan Dunia”, kali ini tidak berkutik di tanah berhutan Jawa…

Baca Juga :  KMP Prathita IV Kandas di Perairan Dangkal Pelabuhan Gilimanuk

Tentara Tartar dari Cina Daratan bisa diluluhlantakkan oleh para gerilyawan Nusantara (Nusa-Anta-Tarok), yaitu Pejuang-pejuang dari Kerajaan Kepulauan… Jenderal Cina Khouw Sing berhasil lari, tapi tidak pernah sampai di Daratan Cina. Jenderal Shih Pie tewas di tepi Sungai Berantas. Sedang Jenderal Mongol Ike Mese tidak tentu rimbanya…

Sebagian tentara Cina lari terus ke arah Selatan. Mereka tiba di suatu wilayah yang dikiranya aman, dan sempat menetap selama sekitar dua minggu. Tetapi kemudian ketahuan oleh para “sandi-telik” Kediri dan Singosari. Mereka pun diusir dan diperangi rakyat biasa dengan semboyan “Balekno Wong Tartar” yang artinya “Usir orang-orang Tartar”. Orang-orang Cina-Mongol itu pun dijadikan tawanan. Lalu daerah itu dikenal dengan nama Blitar…

Dari peristiwa itulah orang-orang Cina mulai menurunkan para Etnis Cina Indonesia. Sebagian dari mereka masih berjiwa Penjajah Mongol. Raden Wijaya diambil menantu oleh Raja Kertanegara. Dia pun menggunakan para tawanan Cina-Mongol itu sebagai balatentaranya untuk membangun kerajaan Majapahit (1293-1500).

Di awal Majapahit itulah orang-orang Mongol lebih memilih menaklukkan Dunia lewat jalan Sutera yang lamanya perjalanan tiga kali lipat dibanding jalan laut ke Selatan. Mereka menaklukkan Asia Tengah, Timur Tengah hingga Rusia dan Austria.

Sekalipun Dinasti Mongol akhirnya tumbang dan digantikan Dinasti Ming (1368-1644) dan Dinasti Ching (1644-1911), keinginan Cina menaklukkan Nusantara tidak pernah pupus. Orang-orang Cina akhirnya berhasil masuk Nusantara tanpa perang. Dengan merembes seperti air bersamaan dengan masuknya orang-orang Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Sementara Majapahit mulai jatuh bersamaan dengan masuknya kebenaran Islam.

Cerita Tentara Berkuda Mongol itu terulang kembali sekarang. Para Capres 2019 itu tidak menyadari, bahwa kuda-kuda Mongol itu sudah disisipi (implant) dengan sandi Amandemen UUD Palsu. Betapapun hebatnya, para Penunggang Kuda Amandemen Palsu itu, mereka tetap tergantung pada kuda-kuda tunggangannya… yang akan membawanya kepada tuan-tuannya di Cina atau Barat… atau luluh-lantak menyerah kepada kekuatan People Power Indonesia.

Loading...

Baca Juga