oleh

Memindahkan Isu Sentral Yang Rasional ke Emosional

Memindahkan Isu Sentral Yang Rasional ke Emosional. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Cukup melelahkan sebenarnya, enam bulan lebih kita digiring untuk saling berhadap-hadapan terus menerus, diadudomba soal khilafah versus Pancasila, intoleransi versus kebhinekaan, pluralisme versus radikalisme, bahkan menjadi mainan demonologi sejak Pilgub DKI.

Anehnya yang memainkan demonologi itu tidak ngaca, kalau KHMA, wacapres petahana adalah simpul utama golongan konservatif. Logika? Tidak penting. Karena yang penting adalah orang menjadi khawatir.

Tujuannya jelas; memindahkan isu sentral yang rasional, yakni ekonomi, pendidikan, kesehatan, perlindungan hukum dan sebagainya pada isu-isu emosional. Mereka berharap menang banyak di sini. Soal kohesi sosial, soal konflik dan perpecahan, emang mereka pikirin? Kagak mah…! Mengkotak-kotakkan itu bukan sesuatu yang baru buat mereka.

Jika kita terus menerus menjadi pion proxy war dan false flag operation, saya pikir ya bodoh saja. Tanpa kita sadar, energi kita habis demi keukeuh bertahan pada sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya, sekarang mau bener atau palsu, informasi selalu simpang siur. Dan ada indikasi, sepertinya sengaja dibuat demikian, ibaratnya “den gabah diinteri”.

Sepanjang tahun ini akan ada sejumlah penyingkapan dan pembuktian, sekaligus seleksi alam, mengawali tatanan baru Nusantara. Seseorang akan hadir mengambil tahta NKRI dan mengembalikan kepada yang sesungguhnya berhak, namanya adalah negara bagian, dimana tiap tanah mempunyai bangsawannya masing-masing, dan kekayaan tanah pertama dan yang utama untuk kemakmuran rakyat di situ, juga hukum setempat berlaku, di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung. Jkw akan kalah dan bentuk Indonesia akan berubah!

Beruntunglah bagi yang eling dan waspada, bahwa sehari-hari kita ini menjadi sasaran proxy war, yang akhirnya sadar dan melawan, berhenti untuk mau diternak sebagai orang dungu dan pembenci. Lalu kembali berfikir dan memusatkan perhatian kepada kemampuan capres untuk menjadi presiden.

Karena pada akhirnya, demokrasi itu tidak sama dengan fasisme dan fanatisme buta, karena fasis adalah cinta buta terhadap “citra” kepemimpinan, bukan pada “visi bersama”. Pro atau kontra bukan issuenya, tetapi perspektifnya.

Loading...

Baca Juga